Saturday, December 7, 2019

Rendah Hati, Hemat, Dan Sederhana Menciptakan Hidup Lebih Mulia

Rendah hati disebut juga dengan tawadu’. Pengertian tawadu’ yakni sikap diri yang tidak merasa lebih dari orang lain. Orang yang tawadu’ berkeyakinan bahwa semua kelebihan yang ada dalam dirinya semata-mata merupakan karunia dari Allah Swt. Orang yang rendah hati disukai oleh banyak orang dan mempunyai banyak kawan. Biasanya orang yang demikian akan lebih akrab dengan
kesuksesan.

Hemat dan sederhana akan menciptakan kehidupan insan menjadi lebih hening dan tenteram. Berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta itu yakni pemborosan yang merupakan bab dari perbuatan setan.
 yakni sikap diri yang tidak merasa lebih dari orang lain Rendah Hati, Hemat, dan Sederhana Membuat Hidup Lebih Mulia
A. Membaca Ayat al-Qur’ān wacana Rendah Hati, Hemat, dan Sederhana
Ayat berikut ini berisi pesan-pesan mulia terkait dengan rendah hati, hemat, dan hidup sederhana.

1. Q.S. al-Furqān/25: 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

LafalArtiLafalArti
وَdan هَوْنًاdengan rendah hati
عِبَادُhamba-hamba وَdan
الرَّحْمَٰنِTuhan Yang Maha Pengasih إِذَapabila
الَّذِينَitu adalah خَاطَبَهُمُmenyapa mereka
يَمْشُونَorang-orang yang berjalan الْجَاهِلُونَorang-orang bodoh
عَلَىdi atas قَالُوmereka mengucapkan
الْأَرْضِbumi سَلَامًاsalam

Terjemah :
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu yakni orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang udik menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam”.

Memahami Pesan-pesan Mulia dalam Q.S. al-Furqān/25: 63
Di dalam ayat ini Allah mengajarkan semoga kita mempunyai sifat rendah hati.
  1. Sifat rendah hati ini harus diwujudkan dalam setiap sikap kita, baik terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah, maupun terhadap orang-orang jahil yang menyapa kita. 
  2. Rendah hati disebut juga dengan tawadu’ yaitu sikap diri yang tidak merasa lebih dari orang lain. Orang yang tawadu’ berkeyakinan bahwa semua kelebihan yang ada dalam dirinya semata-mata merupakan karunia dari Allah Swt.
  3. Sikap rendah hati sanggup terlihat pada dikala mereka berjalan. Orang yang rendah hati ingin tampil sesuai jati diri dan fitrah manusia, dan selalu ingin menjadi dirinya sendiri sesuai pemikiran Allah Swt. Lawan kata dari rendah hati yakni tinggi hati, sombong, takabur, atau angkuh. Allah juga sangat melarang insan berjalan dengan kesombongan. Firman Allah dalam Q.S. al-Isrā’/17 ayat 37 :

............وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
Artinya :
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong...”. (Q.S. al-Isrā’/17 : 37)
  1. Nabi Muhammad saw. berpesan semoga kita senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat tawadu’ (rendah hati) dan menjauhkan dari sifat sombong. Orang yang rendah hati itu derajatnya akan dinaikkan oleh Allah Swt. Sebaliknya, orang yang tinggi hati malah derajatnya akan diturunkan oleh Allah Swt.

2. Q.S. al-Isrā’/17 : 27
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

LafalArtiLafalArti
إِنَّsesungguhnya وَdan
الْمُبَذِّرِينَorang-orang yang pemboros كَانَadalah
كَانُواmereka adalah الشَّيْطَانُsetan
إِخْوَانَsaudara لِرَبِّهِkepada tuhannya
الشَّيَاطِينِsetan كَفُورًاsangat ingkar

Terjemah :
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu yakni saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Memahami Pesan-pesan Mulia Q.S. al-Isrā’/17: 27
Ayat ini diturunkan Allah dalam rangka menjelaskan gaya hidup kaum Jahiliyyah yang salah. Kaum Jahiliyyah yakni adalah bangsa Arab sebelum mendapat pencerahan cahaya Islam. Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa berfoya-foya serta menghambur-hamburkan harta itu yakni pemborosan yang merupakan bab dari perbuatan setan. Allah mengajarkan kita semoga sanggup hidup hemat, sederhana, dan peduli kepada orang lain dengan cara suka berderma.

Rasulullah juga menunjukkan pola semoga kita menjalani hidup dengan kesederhanaan. Rasulullah bukan seorang yang miskin, namun dia menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan. Pernyataan ini sesuai dengan Hadis yang artinya sebagai berikut :
“Dari Abu Umamah ia berkata, “Pada suatu hari di sisinya, sahabat Rasulullah saw. memperbincangkan wacana dunia, maka Rasulullah bersabda: “Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian yakni bab dari iman. Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian yakni bab dari iman.” Maksudnya yakni berpakaian apa adanya dan pantas.” (H.R. Abu Dawud)

    No comments:

    Post a Comment